Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Kembalikan Olahragaku

Radhar Panca Dahana

Sebagai insan , selain mensyukuri diri sebagai salah satu mukjizat Tuhan di antara 6 ,5 miliar umat lain , dengan berkah gila berupa tubuh , pikiran , dan perasaan , aku merasa menjadi insan yang sangat—oh , sangat—berbahagia.

Berbahagia sebab hidup di masa yang melahirkan tokoh-tokoh atau atlet olahraga dengan prestasi terbesar sepanjang abad. Hidup menjadi begitu indah dan sangat berharga diperjuangkan ketika mengapresiasi sukses dan disiplin hidup tokoh-tokoh besar itu , dari Michael Schumacher , Garry Kasparov , Paolo Rossi , Manuel Pacquiao , Michael Phelps , Usain Bolt , Tiger Woods , Roger Federer , sampai Sergei Bubka.

Tentu saja aku tidak mengabaikan LAM Cuccitini alias le saint atau ”The Saint” Messi (25) , pesepak bola terhebat—yang masih bakal terus mencetak rekor— dunia dan diyakini bakal menempati puncak sejarah sepak bola , menggusur dua legenda hidup: Pele dan Maradonna.

Messi bukan sekadar cerita sukses anak buruh pabrik besi dan ibu pembersih rumah yang kemudian menjulang dengan kekayaan Rp 1 triliun , tetapi juga sukses seorang anak yang dengan gigih mengatasi penyakit defisiensi hormon pertumbuhan menjadi prestasi membanggakan seorang anak jalanan.

Lionel alias ”Leo” sekarang pemilik yayasan dunia yang membantu bawah umur dengan kesulitan fisik. Ia menjadi puisi di tengah prosa sepak bola yang dipadati tenaga , kecepatan , dan kekerasan. Ia yang selalu tengadah penuh syukur di setiap golnya.

Tak hanya Messi , semua nama di atas ialah wangsit , teladan , dan contoh siapa pun yang memiliki ambisi dan ingin meraih prestasi. Juga kita , para pencinta , penikmat , dan pekerja olahraga Indonesia. Namun mengapa , di zaman ketika kecerdasan , teknologi , sains , dan uang tersedia untuk memungkinkan lahirnya atlet-atlet besar , kita justru menyaksikan atlet-atlet di cabang-cabang unggulan dan terkenal kita runtuh satu per satu?

Kita menyaksikan berkali-kali penyelenggaraan pesta olahraga yang sangat jelek , penyia-nyiaan atlet , perseteruan antar-pengurus , sampai keterlibatan politik dan militer yang berbeda passion dalam kepengurusan olahraga.

Degradasi Percaya Diri

Tampaknya , selain banyak hal yang harus dihidupkan kembali dengan keras dan sungguh-sungguh , ada banyak hal juga yang harus kita sudahi.

Untuk dilema pertama , kita sepertinya setuju menghidupkan kembali apa yang belakangan meredup dalam kehidupan berolahraga nasional kita: rasa besar hati , kepercayaan diri sebagai insan dan bangsa Indonesia. Sebuah dilema yang berkait dengan kinerja , dengan kualitas dan puncak-puncak pencapaian (prestasi) bangsa dan negara.

Selama sekitar tiga dekade , semenjak dasawarsa kedua pemerintahan Soeharto , kita mengalami semacam degradasi moral sebab kenyataan dalam negeri seolah memojokkan diri kita ke sudut gelap kerendahan diri. Eksistensi dan integrasi diri begitu ringkih , tak tegak , bahkan hanya untuk menghadapi harapan.

Para pemimpin dan elite negeri ini tidak menjalankan obligasinya , tetapi malah mengkhianati , memperdaya , dan mengeksploitasi publik yang telah memberi kepercayaan dan akomodasi hidup melimpah. Maka rakyat , juga atlet , tidak lagi memiliki passion , gairah , untuk ”memeras keringat” , apalagi ”bertumpah darah” membuat prestasi untuk negeri. Apalagi jikalau prestasi itu kemudian dimanipulasi untuk kepentingan portofolio para pemimpin yang korup.

Rasa rendah diri yang meluas ini mesti disudahi , rasa besar hati dan percaya diri mesti dipulihkan. Apa boleh buat , pemimpin dan elite yang menjadi ”biang kerok” harus berubah. Dalam slogan pendek: jadilah pemimpin sejati , bukan pencuri. Pencuri yang merampok wewenang , hak , bahkan harta rakyat untuk kepentingan langsung dan golongan.

Di samping dunia seni/hiburan , olahraga ialah bidang hidup yang sangat seksi , yang dengan cepat dan gampang mengisap perhatian publik. Ia ialah senjata , arsenal kebudayaan yang ampuh , bahkan untuk menaklukkan pesaing (negara lain) dalam nilai , moralitas , bahkan eksistensi.

Kemunduran , apalagi kebobrokan prestasi dan kepengurusan dunia olahraga sebetulnya menjadi salah satu cermin dari realitas prestasi bangsa ini. Lihatlah Olimpiade London kemarin , atau sebelumnya di Seoul , Beijing , atau penyelenggaraan hampir semua Piala Dunia sepak bola. Semua hajatan sportif itu bukan hanya milik komunitas sportif , melainkan juga seluruh elemen bangsa. Menjadi kiprah utama negara dan pemerintah.

Sebuah hajatan sportif , lepas dari unsur finansial-komersial , bahkan catatan rekor yang diraih , berposisi sebagai teras terdepan representasi kualitas bangsa. Penyelenggaraan dan kepengurusan yang sembrono , dengan konflik kepentingan antar-pengurus atau keterlibatan politik yang bencong , identik dengan pengkhianatan terhadap sejarah dan kebudayaan yang ribuan tahun dibangun nenek moyang dan menyebabkan kita bangsa.

Introspeksi

Bercermin dari pencapaian dalam Olimpiade London , SEA Games di Palembang , dan penyelenggaraan PON di Riau , kita bersama makin tak punya alasan adekuat untuk tegak berdiri di teras depan rumah kita. Tidak ada muka untuk berhadapan dengan tetangga atau tamu yang datang.

Olahraga mungkin sudah menerima porsi perhatian selayaknya dengan adanya satu pos kementerian dalam beberapa kabinet belakangan ini. Maka , jikalau olahraga terus-menerus menjadi sumber kekecewaan kita , tidak lain bukan sebab kekurangan atlet jago , bukan pula sebab kurangnya pendukung yang dahsyat. Namun , semata sebab administrasi jelek oleh orang-orang yang tidak layak di daerah itu.

Salah satu penyebab ialah tradisi peralihan kuasa organisasi olahraga yang masih mengikuti pola Orde Baru: didominasi pejabat politik dan militer. Dalam proses pemilihan Ketua Umum PBSI ketika ini , contohnya , disinyalir semacam konspirasi politik-militer ketika Djoko Suyanto (jenderal dan Menko Polhukam) dengan gampang mewariskan jabatan kepada rekan kabinetnya , Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan). Seolah jabatan sportif itu kongruen dengan posisi dalam organisasi politik terkait kekuasaan dan uang.

Olahraga harus dikembalikan kepada profesional. Satu hal yang aku kira justru ada dalam militer. Organisasi militer apa pun , mau menyerahkan kerja dan prestasi profesional di bawah pimpinan nonmiliter , atlet apalagi? Marilah kita sportif dan jujur.

Organisasi ulama harus dipimpin ulama , organisasi ilmiah oleh akademisi , kesenian oleh seniman. Lalu , Mengapa olahraga tidak bisa dipimpin oleh pekerja olahraga (atlet dan pelatih) yang gairah , darah , dan air matanya tumpah hanya untuk olahraga?

Saya bukan pendukung Icuk Sugiarto dalam masalah PBSI. Namun , nama terakhir itu menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk bulu tangkis. Ia berpengalaman dalam organisasi , tahu benar seluk-selingkuh olahraga , bulu tangkisnya. Semua hanya untuk perbandingan dengan Gita Wirjawan , yang mohon maaf , bukan bandingan profesional macam Icuk , Utut Adianto di catur , dan Lukman di angkat berat.

Tentu saja diharapkan kapasitas lain untuk menjadi pemimpin organisasi olahraga: kemampuan manajerial , diplomasi , koneksi , dan finansial. Namun , kapasitas-kapasitas terakhir ini ternyata tidak bermakna dalam mendongkrak prestasi olahraga tanpa diintegrasikan dengan kualitas-kualitas sportif pekerja olahraga. Apa yang terjadi belakangan dalam dunia olahraga menjadi pelajaran.

Roh Berbeda

Olahraga sudah menjadi permainan politik , bahkan untuk kepentingan politik itu sendiri. Menjadi kacau sebab roh dan geregetnya berbeda. Olahraga tidak bisa dikelola dengan administrasi politik di mana konflik menjadi salah satu kepastiannya. Seperti dinyatakan Vicente del Bosque , sukses sepak bola Spanyol sebab ia dipraktikkan dengan semangat kekeluargaan.

Siapa tak memahami , jikalau semangat kekeluargaan pula yang sesungguhnya menjadi identitas kita sebagai bangsa. Maka , melihat kegagalan kita , dengan semangat kekeluargaan , kejernihan , dan kejujuran , aku merasa sempurna meminta penanggung jawab politik utama dalam kerja ini , Menteri Pemuda dan Olahraga , untuk mundur saja. Segera.

Dalam kekeluargaan memang ada pemakluman , sedikit permisif , dan toleransi. Namun , dalam keluarga juga ada adekuasi , kekesatriaan , kejujuran , dan keikhlasan.

Maka , Saudara Menpora , juga para elite kepengurusan olahraga yang hanya mementingkan diri dan golongan sendiri , cukuplah bagi bangsa ini berterima kasih. Silakan mundur dengan kesatria Agar harkat dan martabat Anda tetap mulia.

Izinkanlah yang lebih profesional dan berhasrat besar lengan berkuasa memikul tanggung jawab yang sesungguhnya tidak lebih remeh dibandingkan kementerian lain.

Radhar Panca Dahana , Budayawan

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Kembalikan Olahragaku"

Total Pageviews