Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Berkorban Tak Sekadar Berkurban

A Mustofa Bisri

Akhirnya , setelah sekian usang mendambakan dan tak kunjung memiliki anak , permohonan Nabi Ibrahim semoga dianugerahi anak dikabulkan oleh Tuhannya.

Allah menganugerahinya seorang anak yang sabar. Ketika si anak sudah cukup cukup umur untuk membantu ayahnya bekerja , tiba-tiba sang ayah memberitahukan bahwa ada aba-aba Tuhan untuk menyembelih si anak. ”Bagaimana pendapatmu?” kata sang ayah. Dengan hening , si anak menjawab , ”Ayahku , laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Insya Allah ayah bakal mendapat anakmu ini tabah.”

Ketika bapak-anak itu bertekad bundar berserah diri sepenuhnya untuk melaksanakan perintah Allah dan Nabi Ibrahim telah merebahkan anak kesayangannya itu di atas pelipisnya , ketika itu pula keduanya menunjukan kepatuhan dan kebaktian mereka. Dan , Allah pun mengganti si anak dengan kurban sembelihan berupa kambing yang besar.

Meskipun ritual kurban (dengan ”u”) konon sudah dilakukan semenjak putra-putra Nabi Adam , Habil dan Qabil , insiden yang dituturkan dalam kitab suci Al Alquran itulah yang jadi dasar persyaratan kurban setiap Idul Adha (Hari Raya Kurban).

Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya dan putranya tulus dijadikan kurban demi Tuhan mereka. Bagi Nabi Ibrahim dan putranya , Tuhan yakni nomor satu. Allah yakni segalanya. Siapa pun dan apa pun tidak ada Maknanya di hadapan-Nya. Demi dan untuk-Nya , apa pun tulus mereka korbankan; hingga pun anak atau nyawa sendiri.

Inti Berkurban

Jadi , inti makna kurban di Hari Raya Kurban memang berkorban. Namun , lihatlah , bahkan untuk sekadar mengorbankan binatang , banyak orang bisa yang masih ”menawar-nawar” atau menitipkan kepentingan sendiri sebagai ”kompensasi”.

Apakah mereka ini menerka bahwa kurban (daging ternak) itu benar yang ”dituntut” Tuhan sebagai bukti kecintaan dan kebaktian? Tidak. Sama sekali bukan daging-daging dan darah-darah binatang itu yang mencapai Allah , melainkan ketakwaan. Pengorbanan. ”Tidaklah darah dan daging binatang kurban itu hingga kepada Allah , tetapi ketakwaanmu yang hingga kepada-Nya” (Al Alquran 22:37).

Pengorbanan tidak hanya menyembelih kurban. Pengorbanan yakni atau mestinya merupakan pantulan dari kecintaan dan kebaktian itu. Dari pengorbanan , bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa agung kebaktian seseorang.

Kita bisa saja mengaku cinta atau mengabdi kepada pujaan kita. Kita bisa saja menyatakan hal yang mulia demi Tuhan , demi tanah air , demi rakyat , demi siapa atau apa pun yang kita cintai. Namun , tanpa kesediaan kita berkorban untuknya , pernyataan itu tidak ada Maknanya.

Bahkan , jikalau kita menawar-nawar di dalam pengorbanan kita , kata ”demi”-”demi” itu hanyalah omong kosong belaka. Dalam pengorbanan , tak ada perhitungan untung-rugi atau tuntutan kompensasi apa pun. Dalam pengorbanan hanya ada ketulusan.

Hamba yang sungguh mengasihi dan mengabdi kepada Allah , ibarat Nabi Ibrahim dan putranya , bakal siap dan rela berkorban apa pun , yang paling berharga atau yang remeh , termasuk ego dan kepentingan sendiri—bagi dan demi Tuhannya. Demi melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya , hamba yang sungguh mengasihi dan mengabdi Tuhannya siap dan rela mengalahkan egonya dan mengesampingkan kepentingan sendiri.

Apabila Tuhan , contohnya , melarang perbuatan merusak , hamba yang sungguh mengasihi dan mengabdi Tuhannya bakal menghindari perbuatan merusak meski bertentangan dengan kehendak-Nya. Dia , contohnya , tak bakal melaksanakan perbuatan korupsi , tidak melaksanakan tindakan teror , tidak berurusan dengan narkoba , dan tindakan merusak lainnya , meski dirinya merasa berkepentingan untuk melaksanakan hal itu.

Pemimpin Berkorban

Warga negara yang sungguh mengasihi dan mengabdi tanah airnya bakal dengan sendirinya siap dan rela berkorban apa saja bagi dan demi tanah airnya , meski tidak pernah menyatakannya. Sebaliknya , mereka yang sering menyatakan cinta tanah air , tetapi tidak sudi mengorbankan sedikit waktu dan pikiran untuk kepentingan tanah airnya , terang mereka pembohong besar.

Pemimpin yang selalu menyatakan diri sebagai abdi rakyat , tetapi tidak pernah rela berkorban meski sekadar waktu dan perhatian untuk rakyat , bahkan lebih sering mengorbankan rakyat , cepat atau lambat niscaya bakal tertangkap lembap palsunya dan rakyat bakal mencampakkannya.

Akhirnya , Idul Adha atau Hari Raya Kurban juga sering disebut Idulfitri Haji. Pada dikala itu memang kaum Muslimin yang bisa sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Satu-satunya ibadah dan rukun Islam yang di negeri ini ditangani setrik ”serius” oleh pemerintah. Ibadah ini pun memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Masih di Tanah Air , jemaah calon haji sudah harus mengorbankan waktu , harta , tenaga , pikiran , dan sering kali juga perasaan.

Dalam ritual haji , kaum Muslimin diingatkan dengan peragaan diri ihwal kehambaan , kesetaraan , dan kefanaan manusia; bahkan ihwal hari kemudian. Dengan demikian , jikalau itu semua dihayati , bakal atau semestinya sanggup mengubah sikap dan sikap mereka. Konon salah satu tanda haji mabrur , yang pahalanya tiada lain: nirwana , ialah perubahan sikap perilaku.

Yang sebelum haji malas beribadah , contohnya , Setelahnya menjadi rajin. Sebelumnya sangar , Setelahnya santun. Sebelumnya korup , Setelahnya jujur. Demikian seterusnya. Bukan yang sebelum dan setelah haji tetap saja sikap perilakunya atau malahan lebih jelek lagi.

Wallahu a'lam. Selamat Hari Raya Kurban , Selamat Idulfitri Haji!

A Mustofa Bisri , Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin , Rembang

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Berkorban Tak Sekadar Berkurban"

Total Pageviews