Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Bebas Dalam Kasih

Franz Magnis-Suseno

Bagi umat Kristiani di seluruh dunia , hari Paskah , yang oleh Gereja Kristen dan Gereja Protestan tahun ini dirayakan pada tanggal 1 April , pada hari ahad pertama setelah bulan purnama animo semi pertama , merupakan hari gembira. Pada hari itu , mereka memperingati momen Yesus dibangkitkan Allah dari kematian-Nya di salib.

Dengan demikian , hari Paskah merupakan hari kemenangan atas janjkematian , tetapi bukan kemenangan dengan tari besar hati , bukan kemenangan yang menghancurkan musuh. Tidak ada musuh yang mau dikalahkan Yesus.

Di salib , Yesus memaafkan mereka yang membawanya ke kawasan itu. ”Bapak , ampunilah mereka alasannya ialah mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Kemenangan Yesus bukan kemenangan balas dendam , melainkan kemenangan cinta kasih. Mereka yang memusuhi-Nya pun masih dirangkul.

Jadi , kemenangan Paskah ialah kemenangan kebaikan hati terhadap kebencian , kemenangan pengampunan terhadap balas dendam , kemenangan hati yang baik terhadap hati yang keras. Dalam kemenangan Paskah , mereka yang sesat hatinya pun dirangkul dan dicintai.

Waktu masih mengajar di Palestina , Yesus mengalami dikala tidak dipercayai , ditolak , dicurigai , dibenci , mengalami kekerasan , siksaan , dan hasilnya dibunuh.

Waktu Yesus mau ditangkap dan murid-Nya , Petrus , menarik pedang , Yesus menegur , ”Masukkan pedangmu ke tempatnya. Bukankah Bapak-Ku sanggup mengirim kepada-Ku dua belas pasukan malaikat untuk menyelamatkan Aku? Tetapi , gimana lantas Kitab Suci bakal terpenuhi?”
Membebaskan

Dari perilaku Yesus , kita sanggup mengetahui bahwa Allah tidak membenci pendosa , tidak membalas , melainkan bersedia mengampuni. Di hadapan Allah , tak ada orang yang perlu putus asa. Di hadapan Allah , segala-galanya sanggup menjadi baik alasannya ialah Allah ialah cinta kasih.

Terlalu sering kita , insan , sudah menjadi tawanan ketertutupan hati kita sendiri. Begitu kita sedikit saja dicurigai atau tidak disukai , kita menutup diri dan menjadi curiga juga.

Dari curiga , hati kita menjadi keras. Dan , kekerasan hati bakal semakin memperkuat perilaku negatif mereka yang dianggap lawan. Kita terbelenggu dalam lingkar setan ketakutan , kecurigaan , dan kebencian yang sanggup melibatkan kita dalam permusuhan dan kekerasan.

Dari Yesus kita boleh memperoleh keberanian untuk keluar dari lingkar setan itu. Kita mengalami kebebasan hati orang yang bersikap baik terhadap siapa pun , termasuk terhadap musuhnya. Pepatah Jawa menyampaikan dengan anggun , sing becik dibeciki , sing ala dibeciki (yang baik kita perlakukan dengan baik , yang tidak bersikap baik kita perlakukan dengan baik juga).

Dengan demikian , kita menjadi bebas. Kita tidak lagi terbelenggu otomatisme benci melawan yang membenci. Kita sanggup berhadapan dengan siapa pun dengan hati yang baik. Kita menjadi bebas dari rasa-rasa yang membuat gelap hati kita , yang membuat kita keras , terbelenggu dalam kepicikan kita sendiri yang meracuni hati kita , dari belenggu dendam kesumat.

Kita tak lagi di bawah aturan ”gigi lawan gigi , mata lawan mata”. Sekarang kita mengerti kata Yesus: ”Siapa pun yang menampar pipi kananmu , berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Sikap ini bukan tanda kelemahan , melainkan tanda kekuatan.

Tentu kita tidak selalu boleh ”memberikan pipi kiri” juga. Sikap ”menyerahkan pipi kiri” ialah tanda kebebasan kita dari aturan balas dendam.

Agar kebebasan itu mungkin , masyarakat-masyarakat dunia semenjak ribuan tahun membangun struktur-struktur yang menunjang kekerabatan antarmanusia: segala macam etika istiadat , aturan sopan santun , aturan , peraturan dan norma , serta sistem peradilan yang bertugas menjamin keadilan. Melalui struktur itu , masyarakat mengatur Agar pemukulan pipi tidak praktis terjadi , dan bila terjadi Agar ada trik penyelesaiannya.

Karena itu , kita tentu boleh menuntut , seperlunya di depan pengadilan Agar hak-hak kita itu dihormati.
Kita bahkan sering wajib membela diri alasannya ialah kita tidak hidup sendirian. Dari kita bergantung orang lain , ruang kebebasan hidupnya , kita dihentikan memagarkan mereka yang berada dalam tanggung jawab kita diperlakukan tidak adil.

Yang sanggup diberikan oleh kegembiraan Paskah , kegembiraan bahwa cinta dan kebaikan menang atas kebencian dan kejahatan , ialah kebebasan hati mendalam yang tidak lagi tergerogoti nafsu kebencian gelap , yang dengan senyum kebaikan memperlihatkan pipi kiri untuk dipukul juga.
Suatu kebebasan hati dari keprihatinan terhadap diri sendiri , suatu kebebasan yang membuat kita juga bebas dari rasa resah. Bebas menyayangi , bebas membuka hati , bebas mengharapkan biji kebaikan bahkan di hati mereka yang memusuhi kita.

Seperti ditulis seseorang yang mengalami pembaruan dalam impian kebangkitan , ”Cinta buah kebangkitan itu sabar , murah hati , tidak cemburu. Ia tidak bersukacita alasannya ialah ketidakadilan , tetapi alasannya ialah kebenaran. Cinta percaya segala sesuatu , mengharapkan segala sesuatu , sabar menanggung segala sesuatu. Cinta tidak berkesudahan.”

Sepintas cinta macam itu kelihatan bodoh. Namun , bila kita bersentuhan dengannya , kita tahu bahwa cinta itulah kekuatan yang sebenarnya.

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Bebas Dalam Kasih"

Total Pageviews