Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Kejayaan Itu Dari Timur

Radhar Panca Dahana

Bagaimana saya harus mengungkapkan perasaan ini? Ketika mengunjungi beberapa anak negeri di tempat Nusa Tenggara Timur , saya merasa ibarat insan kecil yang sanggup berkah luar biasa bagi kebodohan dan kemiskinan pengetahuan saya.

Di bab timur negeri tercinta ini hanya keindahan , kekaguman , dan rasa senang serta syukur tiada habis yang saya rasakan untuk apa yang saya dengar , rasakan , lihat , dan gres ketahui. Di belahan kepulauan dengan sejarahnya yang purba ini , hidup begitu indah. Semua orang menari dan menyanyi dengan rileks , ekspresif , dan berbahagia dalam keseharian mereka.

Di Larantuka , contohnya , hanya untuk masalah berladang atau menanam padi , setiap tahun tak kurang 16 pesta adat diselenggarakan dengan meriah. Setiap bab dari aktivitas pertanian itu dilakukan dengan tarian dan nyanyian , plus Beberapa Doa penuh gairah dan kekhusyukan. Di Kupang , hampir semua restoran menyediakan musik hidup. Begitu pun rata-rata angkutan kota dilengkapi peralatan musik yang tidak sekadar bunyi. Hidup dengan alam dan tuntutan modern yang begitu keras mereka hadapi tanpa harus kehilangan kegembiraan , persaudaraan yang hangat , dan kesantunan yang wajar.

Apa yang lebih membahagiakan , sungguh begitu banyak talenta , potensi berpengaruh dalam seni vokal (dengan kerongkongan yang asing , kata dramawan Putu Wijaya) , elastis dan ekspresifnya tubuh bawah umur muda , dalam seni tradisi sampai hip hop bergaya mutakhir. Aktor-aktor teater dengan bunyi lingkaran , bening , dan Maknakulatif , tubuh yang giat dan ”bitrik” sebelum ia mendapat latihan teater yang sesungguhnya.

Di balik kerasnya perilaku dan pertahanan adat mereka , kita mendapat kelembutan dan keramahan yang mengharukan. Ini membuat semua fenomena kekerasan belakangan ini jadi kecacatan dan kemustahilan bagi negeri dengan puluhan etnik dan 61 bahasa berbeda ini. Betapa kedegilan dan keangkaran sungguh mereka buktikan tidak lain yakni ekses dari modernitas dan tata hidup yang mengikutinya.

Di mana Bangsa Bermula

Tentu saja saya tak ingin menyampaikan bahwa hanya di NTT , kelebihan , bakat-bakat hebat , potensi alam , serta adat yang berpengaruh dan santun di atas dan menjadi ciri negeri ini. Saya mengerti , bahkan mungkin setrik bersahabat , semua kondisi itu ada di banyak wilayah lain. Namun , di bab timur Indonesia ini , termasuk di Kepulauan Maluku dan Papua , saya mencicipi getar yang berbeda , unik , dan purba. Ia seolah gema yang terpantul dari kejauhan waktu , yang tak terjamah oleh kesadaran kita , intelektualitas , dan modernitas yang kita klaim dalam kemodernan ini.

Semua itu ibarat berintegrasi dan bertemu titik dengan fakta-fakta (ilmiah) gres yang menyatakan gimana negeri bab timur sesungguhnya yakni asal dari semua etnik dan subkultur—bahkan mungkin kebudayaan masa depan—bangsa ini. Di wilayah inilah ditemukan sisa peradaban paling purba insan , ibarat sistem perladangan , domestikasi hewan , sampai kiprah wanita yang (cukup) setrik umum dikuasai (menurut Bung Karno) dalam penciptaan kerja , pembagian kiprah dengan lelaki , sampai penyusunan hukum-hukum paling awal dari kebudayaan manusia.

Lebih dari itu , di tempat inilah kita menemukan bukti paling awal , bahkan semenjak 5000 tahun SM , terjadinya pelayaran yang mengarungi samudra-samudra besar , menjadi nenek moyang—genetik , linguistik sampai kultural—dari banyak sekali masyarakat kuno di Kepulauan Polinesia , Mekronesia , sampai Selandia Baru , bahkan sisi timur Afrika. Bahkan , sebagian hebat meyakini , ia sudah mendahului keberadaan bangsa Dravida atau Tamil , yang dibuktikan dalam kitab-kitab kuno mereka , segimana temuan usang menawarkan hal serupa untuk mereka yang hidup di Seychelles dan Madagaskar.

Tak heran kalau kemudian beberapa antropolog bahari menyatakan bahwa diaspora pertama dan terbesar di atas muka bumi ini , meliputi sekurangnya setengah dunia , dilakukan oleh mereka yang dahulu hidup dan berkembang di wilayah—terutama antara Maluku dan Papua—ini. Dalam persebaran inilah , di tingkat lokal , dalam perjumpaan yang tak terkira intensitas dan jumlahnya dengan penghuni-penghuni yang tiba berikutnya , lahir keragaman luar biasa , dalam etnik/ras , adat-budaya , dan bahasa. Kenyataan ini hanya membuat kekaguman , rasa heran , serta ketakmengertian para hebat wacana gimana itu semua tercipta.

Di mana Masa Depan?

Hal yang ironis dari realitas di atas: ternyata bukan kaum hebat atau masyarakat ilmiah modern yang mengalami kegamangan , masyarakat orisinil pemilik semua sejarah dan kekayaan luar biasa itu juga mengalami kerancuan untuk memahaminya. Mengapa?

Ketika fakta sejarah , budbahasa , dan budaya yang mengisinya kita pahami hanya dengan perangkat nalar (rasional) , bisa dipastikan ia bakal menuju jalan buntu. Peradaban dan kebudayaan Indonesia tidaklah diciptakan melulu hanya dengan satu modus rasional contohnya. Ada keterlibatan emosional (naluri , insting) dan spiritual , di sisi keterlibatan kultur tubuh (fisikal) dalam proses yang integral itu. Maknanya , tanpa juga melibatkan daya mental-spiritual dan fisikal , kita bakal selalu gagal memahami kebudayaan dan jati diri bangsa ini.

Kebudayaan tidak bisa hanya dimengerti , tetapi juga dialami dan dilakoni. Dengannya kita bakal mendapat pemahaman yang menyeluruh sampai di tingkat transenden dan imanen. Semua yang merasa bertanggung jawab pada bangsa dan negara ini harus bisa mengintegrasikan dirinya , pengetahuan modern , sampai praksis profesionalnya dengan modus pembudayaan dan pemberadaban di atas.

Jika diperkenankan , saya anjurkan selain para elite juga masyarakat luas melaksanakan semacam ”penemuan ulang” dari realitas adab—yang mungkin primordial itu—mereka sebaiknya juga melangkah ke bab timur negeri ini. Di mana , dengan modus pemberadaban di atas , keseluruhan diri kita bakal mendapat sebuah ”pengalaman” asing dan mengharukan wacana apa , siapa , dan dari mana sebetulnya kita bermula.

Inilah yang juga harus menjadi ”kesadaran baru” bagi rakyat di tempat timur Indonesia. Bahwa , kekuatan mereka sebetulnya bukanlah pada sisi material , melainkan justru pada sisi kultural. Di wilayah inilah saudara-saudara kita sesungguhnya memiliki kapasitas terbaik untuk menawarkan kekuatan terbesar dari bangsa Indonesia: kebudayaan!

Maka , tepatlah kalau pada Hari Pers Nasional beberapa waktu , Presiden SBY menyatakan respek dan dukungannya pada bab timur ini. Ia bahkan menjanjikan dana Rp 5 triliun sebagai sumbangan pembangunan. Sayang , kesepakatan yang baik itu belum dilaksanakan.

Presiden harus merealisasi kesepakatan itu segera. Bukan alasannya yakni alasan nostalgis dan romantis , melainkan pada realitas mutakhir yang ada , jati diri dan identitas kita yang masih samar ketika ini—kejayaan negara-bangsa berkebudayaan di masa depan—bakal terbit cahayanya dari timur.

Radhar Panca Dahana , Budayawan

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Kejayaan Itu Dari Timur"

Total Pageviews